Scrap Booking : Kertas-kertas Dalam Bingkai Seni

Bagi sebahagian orang mungkin masih jarang mendengar kerajinan tangan Scrap Booking. Tapi sebenarnya scrap booking sendiri sudah mulai ada pada abad ke-15 dimulai dari negara Inggris. Dahulu, orang-orang mulai mengumpulkan foto keluarga mereka ke dalam sebuah buku yang dihiasi dengan berbagai macam aksesoris dapat berupa pita, kancing, daun kering, lipatan kertas bekas, puisi dan sebagainya. Alhasil buku tersebut menyerupai album foto yang sangat unik dan menarik.

Sekarang ini scrap booking mengalami perkembangan yang cukup pesat. Ornamen yang ditambahkan pun semakin beragam. Tidak hanya pita, daun kering atau lipatan kertas saja, tetapi penggunaan bahan daur ulang seperti potongan goni, kain perca, rol film juga sudah mulai ditambahkan sebagai hiasan. Di Indonesia sendiri scarap booking mulai berkembang pada tahun 1999. Dan saat ini mulai berkembang di beberapa kota besar seperti Jakarta, Surabaya dan Yogyakarta.

Di medan sendiri Scrap Booking belum terlalu popular. Tetapi itu tidak menyurutkan tekad Carina untuk memulai usaha tersebut di kota yang terkenal dengan Bika Ambon ini. “Saya melihat di Medan belum ada yang menggeluti Scrap Booking, padahal Scrap Booking itu unik dan hasilnya punya nilai seni yang tinggi” ujar alumni SMU St. Thomas 1 itu.

Berawal dari hobi yang sudah dimulainya sejak tahun 2009, ia mengakui bahwa dirinya memang sangat tertarik dengan kertas. Menurutnya dibutuhkan kreatifitas dan kesabaran yang tinggi jika kita mau memulai Scrap Booking. “Awalnya saya membuat satu karya Scrap Booking untuk sahabatku, dan ternyata banyak orang yang suka dengan hasil karyaku. Kemudian berlanjut membuat album foto untuk keluargaku”, ujar wanita kelahiran Yogyakarta 26 tahun silam itu.

Mei 2011 yang lalu ia memulai menerima pesanan dari beberapa teman melalui website pribadinya. Dan hasilnya tidak sedikit orang memesan Scrap Booking walaupun mayoritas masih dari luar kota Medan seperti Jakarta, Yogya bahkan Singkawang.

Memberanikan diri menjadikan Scrap Booking sebagai bisnis, alumni  Sastra Perancis UGM dan Ilmu Komunikasi Atma Jaya Yogyakarta ini mematenkan usahanya dengan menggunakan CartaRina Srap sebagai label. “Cartarina sendiri diambil dari bahasa Itali yang artinya “Kertas” dan Rina, nama saya sendiri yang berarti “Preety”,” ujar wanita yang juga sempat mengemban pendidikan di Itali ini sambil tersenyum.

Hasil karyanya tidak hanya berupa album foto, tetapi juga notes, pigura dan diary. Yang unik, setiap hasil karyanya hanya didesain secara khusus untuk yang memesan, artinya tidak ada desain yang persis sama.

“Setiap pemesan boleh menentukan desain sesuai keinginan mereka. Mulai dari bahan kertas yang digunakan, warna, ukuran, dan ornament yang ditampilkan. Jadi sifatnya lebih personal. Pastinya setiap orang punya selera yang berbeda-beda” tambahnya sembari mengerjakan album foto pesanan pelanggannya.

Seluruh proses produksi masih dikerjakannya seorang diri di sebuah ruangan berkururan 4mx5m itu. Setiap karya bisa memakan waktu pengerjaan selama 3-4 hari tergantung tingkat kesulitan. “Kedepannya saya memang berencana untuk membuka gerai di Medan, tapi untuk sekarang cukup secara online dan datang lagsung kemari (rumah),” tambah pencinta fotografi itu.

CartaRina Art & Craft

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: