Marissa Anita : Saya Rindu Media yang Mendidik

MA

Siapa yang tak mengenal wanita yang satu ini. Wajah­nya mulai menghiasi layar kaca sejak tahun 2008 ketika ia bergabung menjadi News Anchor di Metro TV. Lima tahun berlalu ia pun memutuskan melanjutkan karir jurnalistiknya dengan bergabung di stasiun televisi lainnya, Net Media. Suatu momen yang berharga bagi saya ketika bisa bertatap muka langsung dengannya.

Sosok Marissa Anita belakangan semakin dikenal ketika ia didaulat membawakan program berita Indonesia Morning Show (IMS) yang ditayangkan di stasiun televisi Net Media. Ia bersama kedua rekannya selalu mulai menyapa pemirsa sejak pukul 6 hingga 9 pagi.

Saya beruntung bisa mewawancarai wanita berdarah campuran Tionghoa, Jawa dan Minang ini ketika ia berkunjung ke Medan awal Februari lalu. “Hai, terima kasih telah mengejar saya sampai ke bandara,” sapaan pertama yang ia lontarkan ketika bertemu dengan KOVER Magazine. Sambutannya yang hangat langsung membuat kami merasa akrab. Yah, Marissa Anita memang dikenal memiliki personality yang humble dan senantiasa ceria.

“Ini kunjungan pertama saya ke Medan. Saya nggak nyangka Medan punya ­bandara sekeren ini. Mengingatkan saya pada bandara di Singapore,” ujar wanita kelahiran Surabaya 29 Maret 1983 ini. Kunjungannya saat itu dalam rangka menunaikan tugas untuk mewawancarai Surya Paloh yang tengah berkunjung ke Sinabung.

“Saya mengikuti kegiatan Bapak Surya Paloh selama di Sinabung. Ini bagian dari program acara Satu Indonesia,” ungkapnya. Ia menuturkan pengalamannya ketika berkunjung ke Sinabung. “Saya sangat terkesima dengan keindahan Sinabung. Saya menyebut Sinabung itu ‘Nyonya Cantik yang Sedang Galau,’ karena dia belum berhenti erupsi. Kadang marah kadang tenang,” ungkapnya sambil tersenyum.

Marissa juga berkesempatan berinteraksi langsung dengan para pengungsi dan bisa merasakan penderitaan yang ­dialami para pengungsi. “Saya mengunjungi Batu Karang. Kondisinya mereka memang betul-betul membutuhkan bantuan.Bukan hanya dari segi sembako sih tapi menurut saya lebih ke lapangan pekerjaan ya. Akibat erupsi Sinabung, mereka kehilangan lahan sehingga tidak bisa bercocok tanam,” ujar­nya dengan mimik serius. Ia berharap apa yang dijanjikan oleh pemerintah bisa segera direalisasikan.

Jatuh cinta pada jurnalistik

Saat ini ia berprofesi sebagai News Anchor di Net Media. Ketika diberi pertanyaan mengenai bagaimana ia bisa terjun ke dunia jurnalistik, dengan semangat ia mulai bercerita. “Well, sebenarnya saya nggak pernah menyangka bisa terjun ke dunia ini (jurnalistik-red), dulunya saya berkeinginan untuk kerja di ­majalah. Karena menurut saya kerja di ­majalah itu keren, dan bisa membuka wawasan,” kenangnya. “Mungkin ini rencana Tuhan yah. Saya percaya jika perjalanan hidup kita ini 50 persen Tuhan yang ngatur sisanya adalah usaha kita,” ujar anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Setelah menamatkan S1-nya di Universitas Atma Jaya Jakarta, jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, ia sempat menjadi guru Bahasa Inggris. Ketertarikannya dengan dunia media melatarbelakangi keputusannya mengambil pasca sarjana jurnalistik di University of Sydney, New South Wales, Australia. Ia berhasil menamatkan S-2 dengan predikat lulusan terbaik. Semasa kuliah di Australia, Marissa sering pulang ke Indonesia dan sempat pula ia magang sebagai freelence writer di majalah Tatler. Dari sinilah ia semakin jatuh hati terhadap dunia jurnalistik.

“Tahun 2007 saya kembali ke Indonesia, kebetulan ada vacancy Journalist Development Program (JDP) di Metro TV. Tanpa pikir panjang, langsung saya coba saja.Prosesnya panjang banget. Menjalani lima tahap seleksi akhirnya saya diterima. Tiga tahun pertama saya menjadi reporter, tahun berikutnya saya menjadi News Anchor. Saya pun semakin jatuh hati kepada dunia ini (jurnalistik-red),” ujarnya panjang lebar.

Lima setengah tahun lamanya ia bergabung dengan Metro TV. Saat ini ia bergabung dengan Net Media. Ketika ditanya mengenai keputusan­nya bergabung dengan stasiun televisi ini dengan spontan ia tertawa lepas. Raut wajahnya semakin ceria sembari ia menjelaskan alasan kepindahannya.

“Saya lompat ke Net karena Net memiliki visi yang lebih ke saya. Dulu bergabung di Metro TV juga visi misinya memiliki kesamaan dengan saya.Bagi saya pendidikan adalah hal yang utama.Taqline Metro TV adalah knowledge to elevate. Saya setuju dengan misinya, yakni men­didik ­masyarakat Indonesia untuk lebih pintar,” ujarnya.

Menurutnya jika seseorang itu pintar, otomatis mempunyai analisa yang lebih baik, sehingga masyarakat akan memilih pejabat-pejabat yang memiliki kompetensi. “Saya memilih kamu karena kamu kompeten, bukan karena kamu terkenal ataupun kaya. Tapi karena kamu kompeten,” tegasnya.

Lalu Net Media datang menghampirinya.Dengan tagline Televisi Masa Kini, Net Media datang dengan ­konsep baru. “Kita sudah muak ­dengan media-media yang ada sekarang. Media televisi sudah mulai ­melenceng. Saya nggak tahu bagaimana sebuah lembaga riset membuat atau menghasilkan data bahwa acara pukul-pukulan, tepung-tepungan, ketawa-ketawa nggak jelas itu bisa bagus ratingnya,” ungkapnya dengan lugas.

Menurutnya, Net Media mencoba memberikan pilihan kepada masya­rakat yang sudah capek dengan tayangan-tayangan yang sifatnya membodohi. Media saat ini sudah tidak terkontrol.Sebagai seorang konsumen media, Marissa merindukan media yang memiliki misi mendidik, dan Net Media hadir menjawab kebutuhan tersebut.Acara-acara yang ditayangkan menghibur tapi tetap memiliki nilai edukasi.

“Ketika saya masih kecil saya masih merasakan televisi yang mendidik, ada Si Komo, Casper, dan Sesame Street. Tayangan itu semuanya memiliki ­unsur mendidik.Bagaimana dengan anak-anak zaman sekarang? Mereka disuguhi apa? Lagu anak-anak juga tidak ada lagi. Belum lagi ada internet sebagai pengaruh globalisasi semuanya sudah ngga ada batas,” ucapnya dengan nada serius.

Alasan inilah yang membulatkan tekad istri dari Andrew Trigg ini untuk bergabung dengan Net Media. “Saya dan Net Media memiliki visi dan misi yang sama. Yang saya suka dari Net itu adalah Can Do (Kita Bisa). Kita bisa lakuin apapun.Bahkan CEO kita tidak membatasi kreatifitas.Orang kreatif dikasih begitu yah lepas donk.Yang penting acaranya bagus ada value-nya dan bisa dipertanggungjawabkan.Setiap kali kita selesai program kita selalu evaluasi. Semua orang bisa berbicara terbuka dan bebas, dan ada juga kritik tapi selalu yang membangun bukan menjatuhkan,” ujarnya dengan penuh antusias.

HANYA MENJADI MANUSIA

Wanita cantik ini memang dikenal ramah dan hangat. Tidak hanya di luar studio, namun hal ini ia tunjukkan saat ia membawakan program IMS. Meskipun tutur bahasanya lembut, ia tak segan tertawa lepas dengan tawanya yang khas ataupun menunjukkan wajah penuh ekspresi. Bahkan ia tak malu jika harus melompat dan berlari seperti anak kecil. Baginya tertawa lepas dan tampil apa adanya adalah bagian menjadi manusia.

“Yah itu bagaimana saya menjadi manusia. Menjadi presenter bukan harus menjadi ­makhluk yang berbeda. Saya lebih suka melihat orang yang tidak berbeda antara di kamera dengan aslinya, karena itu akan terlihat lebih genuine (murni, asli-red),” ujar wanita yang menguasai lima bahasa ini.

Menurutnya seorang presenter harus menjadi diri sendiri, agar lebih mudah dipahami oleh penonton. Dengan begitu akan tercipta connection antara presenter dan penonton ­sehingga penonton merasa nyaman dengan apa yang mereka lihat dan mereka bisa me­ngerti dengan apa yang disampaikan presen­ter. “Sudah banyak orang yang penuh dengan pencitraan, mengapa kita tidak menjadi diri sendiri saja,”celotehnya.

Seseorang yang ingin terjun ke dunia jurnalistik khususnya media penyiaran, modal awalnya adalah harus menyukai bidang ini. Jika bekerja dengan passion yang kita minati hasilnya akan maksimal. Seorang jurnalis harus memiliki rasa empati, sehingga ketika ia menyampaikan berita, penonton bisa merasakan peristiwa yang tengah dilaporkan. Ia juga harus berwawasan luas dan harus siap bekerja dalam jam kerja yang “gila-gilaan”.

Selain bertugas sebagai News Anchor di program IMS, ia didaulat untuk membawakan sebuah acara, Satu Indonesia. Saat ini ia tengah menyiapkan ­program acara baru yang masih dirahasiakannya. Marrisa juga berperan sebagai News Talent Coordinator untuk Net Media.

Lepas dari kesibukannya sebagai pekerja media, Marrisa juga memiliki bebrapa hobi yang ia akui sebagai obat mujarab untuk menghilangkan stres dari rutinitas pekerjaan. Selain jurnalistik, Marrisa memiliki passion lainnya di bidang entertainment yakni teater, film dan musik. Jangan heran jika Anda mengajaknya berbicara mengenai ketiga hal ini ia akan bercerita sangat antusias.

Sebelum menjadi seorang jurnalis ia telah menjadi pemain teater. Ia mulai jatuh hati pada teater sejak masih kuliah di Atmajaya. Tahun 2005 ia bergabung dengan Jakarta Players, sebuah kelompok teater gabungan yang beranggotakan warga lokal dan ekspatriat. Teater menjadi penyeimbang hidupnya. Bahkan wanita berkulit putih ini bertemu dengan sang suami melalui teater.

Tahun 2013, penyuka makanan Sushi dan Sashimi ini ikut ambil bagian dalam pementasan tarian Legendra Padusi, sebuah karya maestro tari Tom Ibnur yang mengangkat kisah legenda perempuan (padusi) Minangkabau. Sejak bergabung dengan Net Media, Marissa mengaku belum sempat lagi main teater.

Selain teater, Marrisa juga menyukai film. Waktu luang akan ia pergunakan untuk menonton film. Tak ada batasan genre film, namun film ber-genre drama merupakan favoritnya. “Saya juga menyukai film. Pernah saya sakit selama 2,5 minggu, per harinya saya bisa menonton delapan film. Jadi selama saya sakit lebih dari 40 film saya tonton,” ujarnya sambil tertawa lepas. Ia juga pernah mengisi kolom Movie Review di Waspada Online.

Pengagum Meryl Streep ini juga pernah menjejal seni peran lainnya yakni acting. Ia sempat beradu acting dengan Atika Hasiholan dalam sebuah film pendek berjudul Broken Vace.Ia juga menyimpan bakat di bidang tarik suara. Di beberapa kesempatan ia pernah memperdengarkan suara merdunya dalam sebuah nyanyian. Menyanyi diakuinya bisa membuatnya rileks dan ampuh untuk mengatasi rasa nervous terlebih saat ia akan siaran. Wanita ini memang spesial dan sangat berbakat.

IBU ADALAH SEGALANYA

Keluarga tetap menjadi prioritas bagi Marissa.Belakangan rutinitas yang sangat padat membuatnya kewalahan untuk membagi waktu bersama keluarga.Weekend adalah saat yang paling ia tunggu, karena inilah waktu bersama keluarga. “Setiap weekend saya harus bersama keluarga, bahkan saya nggak terima telepon dari kantor. Ini cara saya untuk menyeimbangkan waktu saya antara pekerjaan dan keluarga,” ujarnya.

Hal lainnya yang bisa membuat Marissa bahagia adalah memasak. Ternyata ia juga cukup mahir di dapur. “Kalau saya bisa pulang lebih awal saya sempatkan untuk masak. Masak itu penting ,it’s make me happy. Coba bayangin kita sendirian di dapur, kondisinya tenang.Saya bebas berkreasi dengan bahan-bahan yang ada di dapur. Untungnya suami saya tidak rewel, jadi apapun yang saya masak pasti ia santap,” ucapnya lagi sambil tertawa lebar. “Sekarang sih saya suka masak tumisan, karena gampang banget. Tinggal tumis bawang putih, tambahkan garam, masukin bahan utamanya, voila jadi deh,” ungkapnya dengan riang.

Raut wajahnya berubah serius ketika ditanya mengenai sosok motivator bagi seorang Marissa. “Well that’s a interesting question. Ibu adalah motivator saya. Sejak kecil ibu menanamkan bahwa saya harus pintar dan harus bekerja, agar nantinya saya tidak bergantung kepada orang lain.

Menurutnya menjadi seorang ibu ­rumah tangga yang memiliki tanggung­jawab merawat dan mendidik anak bukanlah perkara yang gampang.Karena kita dihadapkan pada seorang anak manusia yang memiliki emosi bukan mesin dan bukan sebuah sistem yang bisa kita atur sesuai kehendak kita.

“Bagi saya,Ibu memiliki kecerdasan emosi yang tinggi. Darinya saya belajar emotional intelegency. Ibu juga yang mengatakan bahwa saya harus selalu menempatkan diri di tempat orang lain. Kalau kamu tidak mau disakiti kamu jangan menyakiti.Toh kita semua sama, sama-sama manusia,” ujarnya. Inilah yang menjadi tolak ukur baginya dalam berinteraksi dengan orang lain.

“Sejak kecil saya sudah terbiasa mandiri bahkan diusia menginjak 20 tahun saya pernah memutuskan untuk tidak menikah. Saya pernah mengalami krisis kepercayaan.Perlu 2,5 tahun bagi suami saya untuk menyakinkan hati saya. Dia sangat konsiten dan sabar, itu yang membuat hati saya luluh,“ ungkapnya sambil tersipu malu.

Ia akui bahwa suami adalah sosok lainnya yang berperan penting dalam pencapaian kehidupannya saat ini. “Dari suami saya belajar komunikasi dan kejujuran. Komunikasi yang baik itu penting apakah dalam hubungan keluarga dan pekerjaan.Komunikasi itu harus sejajar.Antara saya dan suami tidak ada kebohongan. Apa pun kondisi saya akan saya tuturkan, begitu juga sebaliknya,” ujarnya.

Sepahit apa pun kejujuran itu akan lebih baik daripada kebohongan. Kebohongan hanya akan menghilangkan kepercayaan orang lain terhadap kita. Baginya tidak ada yang namanya kebohongan putih.

Dengan segala pencapaian yang telah ia raih saat ini, baik di dalam pekerjaan maupun keluarga, Marissa mengaku sudah bahagia dengan apapun yang ia miliki. “Wanita yang berhasil menurut saya adalah wanita yang bahagia dengan hidup yang ia miliki. Saya sudah merasa bahagia den sangat bersyukur dengan segala perjalanan kehidupan saya.Apapun pilihan hidup Anda jalani saja. Asalkan membuat Anda bahagia, why not? It’s your life rite,” ujarnya dengan penuh semangat mengakhiri obrolan kami siang itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: