Batik Dengan Rumus Matematika

Nancy Margried

CEO Batik Fractal Indonesia

Foto : Dok. Nancy Margried

CEO Batic Fractal Indonesia

Apa yang ada di benak Anda jika batik disatukan dengan rumus matematika? Sekilas mungkin tidak ada hubungannya. Tetapi di tangan Nancy Margried dan teman-teman, rumus tersebut disulap menjadi motif batik yang bernilai tinggi. Kolaborasi art, science dan technologymampu menghasilkan produk batik berkualitas hingga menembus pasar internasional.

Minat berkarir di bidang industri kreatif telah terbentuk  sejak wanita asal Medan ini melanjutkan kuliah di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran Bandung. Setelah menamatkan bangku SMA pada tahun 1997, ia pun menetap di Kota Kembang hingga sekarang.

“Di Bandung saya punya teman-teman dengan minat yang sama, dan pergerakan dalam bidang teknologi di Bandung lebih cepat daripada di Medan. Juga SDM nya pun jauh lebih banyak. Jadi dengan alasan tersebut, Bandung adalah pilihan yang lebih tepat mengembangkan karir,” ungkap alumni SMU. St. Thomas 1 Medan itu.

Konsep awal Batik Fractal bermula dari ide membuat penelitian mengenai batik dan matematika yang di desain dengan komputer menggunakan software. “ Teman-teman founder Batik Fractal ini selain aku adalah anak-anak ITB, yang satu dari Arsitektur satu lagi dari Matematika. Kami senang berdiskusi tentang kesenangan dan hobi hingga akhirnya diskusi bergerak ke arah traditional art dan hubungannya dengan sains. Tercetuslah ide membuat penelitian mengenai batik dan matematika didesain dengan komputer,” ungkap putri pasangan Pandapotan Panjaitan dan Riaminar Sinurat ini.

Ide ini sudah ada sejak akhir 2006 dan merupakan ide kolaboratif antara Nancy dan kedua temannya. Tanpa adanya kolaborasi, tidak mungkin ide ini bisa tercipta karena memang Batik Fractal adalah gabungan antara art, science dan technology.

Tidak mudah bagi Nancy untuk memperkenalkan Batic Fractal ke tengah masyarakat dikarenakan konsep Batik Fractal yang sudah rumit. Tetapi Nancy terus melakukan banyak kajian sehingga ia bisa merumuskan dengan jelas apa sebenarnya Batik Farctal itu. “Kita berusaha mem-breakdown konsep rumit ini ke dalam bahasa yang mudah dimengerti masyarakat, serta mem-breakdown nya juga ke dalam kegiatan-kegiatan yang sederhana dan aplikasi yang bermanfaat bagi orang lain,” ungkapnya.

Ia pun mendapat banyak kesempatan untuk berbicara dalam seminar, membuat workshop, mengikuti kompetisi baik nasional maupun internasional dengan tujuan agar kegiatan ini bisa dilirik oleh publikasi media sehingga memudahkan Nancy untuk menerangkan penemuan dan produknya ke tengah masyarakat. Secara sederhana Batik Fractal itu adalah batik yang motifnya didesain dengan rumus matematika menggunakan software.

Tahun 2008, Nancy dan teman-teman pun berhasil mendaftarkan penemuan inovasi Batik Fractal pada Dirjen Haki Indonesia. Saat ini Batik Fraktal sudah dipsarkan ke seluruh Indonesia dan beberapa negara lain seperti Malaysia, Australia, Inggris, Amerika, Swiss, Italia dan Swedia.

Sejumlah penghargaan pun berhasil diraihnya diantaranya memenangkan Caring Professional Award bulan Juni 2012 yakni kompetisi untuk wanita-wanita profesional dari Martha Tilaar, 100 Best Innovation of Indonesia  (2008), Indonesia ICT Award (2008), UNESCO Award of Excellence (2008), British Council International Young creative Entrepreneur (2010) dan lainnya.

Ia pun baru membuka counter Batik Fractal di sebuah galeri bernama “Cultural Connections Gallery” di Beachwalk Kuta Bali yang lokasinya berada di seberang Pantai Kuta di Bali.

“Anakhon ki na hamoraon di ahu”

Sebagai perempuan Batak, Nancy mengaku memang dibesarkan dalam keluarga yang memegang teguh adat istiadat meskipun zaman sekarang ada beberapa yang sudah tidak relevan memang harus ditinggalkan. Menurutnya umumnya orang Batak mengutamakan pendidikan, pekerja keras, perantau, jujur dan tidak punya “hidden agenda” (tidak main belakang) dan hal ini sangat melekat dalam dirinya dan menjadi salah satu ciri khas yang menguntungkan dalam menjalani kehidupan.

“Prinsip orang Batak yakni harus menghormati orang tua, sangat aku rasakan manfaatnya. Banyak anak muda jaman sekarang yang tidak menghormati orangtua, itu sangat menyedihkan sekali,” ungkapnya.

Orangtuanya memegang teguh prinsip”anakhon ki na hamoraon di ahu” (anakku adalah kekayaanku). Orangtuanya memang menginvestasikan banyak hal untuk kemajuan anak-anak terutama dari segi pendidikan. “Orangtua saya melakukan apa saja untuk mendukung pendidikan kami anak-anaknya sampai kami semua berhasil seperti sekarang. Saat ini prinsip “anakhon ki na hamoraon di ahu” ini sudah berbuah, orangtua melihat kami sudah berhasil mandiri di tengah masyarakat, berprestasi dan itu adalah harta yang tak terhingga lebih dari segala materi yang ada,” ungkapnya.

Butuh proses adapatasi yang tidak singkat bagi Nancy ketika memilih menetap di Bandung. Culture gap sempat juga ia rasakan diantaranya bahasa dan logat Batak sedikit menjadi kendala karena di Bandung semua orang bicaranya lembut dan lambat, sementara ia terbiasa bersuara keras dan kalau bicara langsung to the point. Butuh setahun baginya untuk bisa beradaptasi.

“Tipsnya ya dengan membuka pikiran dan tidak bersifat menghakimi serta mau beradaptasi dengan lingkungan sekitar.Orang Batak pada umumnya itu dianggap “unapproachable” karena sifat yang keras di depan, walaupun hatinya lembut kan gak keliatan di awal. Kita harus pintar membawa diri agar tidak terjebak dalam stereotype unapproachable itu tadi,” ungkapnya.

Ia pun sempat membentuk “Gank Inang United” ketika ia mengikuti karantina Young Caring Professional Award bersama finalis lainnya yang berasal dari suku Sunda, Solo, Jawa, Tionghoa dan lainnya. “Semuanya diapnggil Inang. Ini membuktikan bahwa dengan cara yang asyik, ternyata budaya Batak dan style Medan itu bisa membaur bahkan bisa populer di tengah teman-teman di Pulau Jawa,” ungkapnya.

Hal yang paling ia rindukan dari Medan adalah makanannya. Ia mengaku saat ini ia belum terpikir untuk berkarir di Medan. Setiap Natal dan Tahun Baru ia berada di Medan untuk mengobati kerinduannya akan Medan dan berkumpul bersama keluarga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: