Cantiknya Si Kawah Putih Tinggi Raja

tinggi raja

Pesona alam Sumatera Utara memang tak ada habisnya. Tidak hanya keindahan Danau Toba yang sudah mendunia, Sumatera Utara juga memiliki kawah putih yang keindahannya tak kalah mempesona setiap mata yang memandang.

Jika di daerah Ciwidey, Jawa Barat, terdapat wisata alam Kawah Putih, di Sumatera Utara juga memiliki wisata alam kawah putih yang pesonanya tidak kalah indah. Dinamakan Tinggi raja, merupakan sebuah cagar alam yang terletak di Desa Tinggi Raja, Kecamatan Silau Kahen, Kabupaten Simalungun Sumatera Utara. Letaknya tepat di tengah-tengah kawasan hutan lindung, Tinggi Raja memiliki pesona bukit kapur berwarna putih dengan danau air panas yang berwarna biru kehijauan.

Lokasinya jauh dari hiruk pikuk Kota Medann, dengan jarak tempuh 80-90 Km atau sekitar 3-4 jam dari Medan. Untuk mencapai tempat ini ada beberapa rute yang bisa Anda pilih. Anda bisa memilih jalur Medan menuju Lubuk Pakam, Galang, Dolok Masihul, Nagori Dolok lalu Dolok Tinggi Raja. Rute lainnya dari Medan melewati Lubuk Pakam, Galang, Bangun Purba lalu Dolok Tinggi Raja.

Alasan kondisi jalan yang lebih bagus dan jarak tempuh yang lebih dekat, saya beserta rombongan memilih menggunakan jalur yang kedua. Koltur tanah menuju Tinggi Raja sangat bervariasi. Kondisi jalan mulus dari Medan hingga Lubuk Pakam, berubah menjadi sedikit berbatu ketika memasuki Galang. Jalannya pun semakin menyempit. Sepanjang perjalanan, mata seolah dipenuhi pemandangan pohon sawit dan pohon karet. Sesekali hamparan padi yang hijau juga bisa Anda temukan.

Tantangan semakin bertambah ketika kami tiba di pintu masuk wisata alam ini. Dari pintu masuk, masih berjarak 12 km lagi untuk tiba di Tinggi Raja. Kontur tanah berbukit sedikit menyulitkan kendaraan kami untuk melintas, belum lagi masih banyak jalan yang berlubang dalam. Jalanin licin juga sempat menghambat kami. Sangat diperlukan ekstra kehati-hatian untuk melintasi jalan ini, apalagi jika cuaca sedang hujan. Lebih baik tidak menggunakan kendaraan matic karena ini akan menyulitkan perjalanan.

Tak hanya kondisi jalan berliku yang harus dihadaoi, berbagai pungli pun menghampiri. Seakan menjadi hal yang lumrah jika muncul tempat wisata yang baru saja diekspos, tentu saja yang paling diuntungkan adalah masyarakat setempat. Setelah harus membayar Rp10ribu di pintu masuk, kami melewati empat kali pemungutan lainnya. Dengan dalil perbaikan jalan, masyarakat mengharuskan kami membayar kembali Rp5ribu. Tak hanya disitu, dipertengahan kami harus membayar kembali Rp15ribu. Kami juga melewati dua kali rombongan anak-anak yang meminta dengan sedikit memaksa, namun maaf yang ini harus kami lewatkan, karena kondisi kantong yang mulai menipis. Retribusi perorangan sebesar Rp1000 juga harus dibayar pada posko pintu kedatangan. Lagi-lagi pembayaran retribusi tetap saja tidak disertai dengan karcis resmi. ah, sudahlah, hal ini juga banyak ditemukan di tempat wisata lainnya.

Setelah melewati semua tantangan, akhirnya sampailah kami di area parkiran. Begitu besar keinginan mata ini menyaksikan keindahan Si Kawah Putih. Ternyata kami belum bisa bernafas lega, karena untuk menikmati pesona batu kapur dan danau biru Tinggi Raja, masih ada fase mendaki bukit kapur kurang lebih 10 menit yang harus dilalui. Jalannya juga cukup terjal dipenuhi batu kerikil. Hmm, pastikan Anda memakai alas kaki yang sesuai.

Akhirnya kami pun tiba di lokasi bukit kapur yang menjadi tujuan kami. Batu kapur diselimuti warna putih uap panas yang keluar dari mata air panas. Warna danau yang hijau meneduhkan mata dan hati. Namun sayang, Tinggi Raja saat itu dipadati pengunjung yang menghabiskan libur mereka. Kami pun tidak leluasa menikmati keindahan tempat ini. Lebih baik mengunjungi tempat ini pada hari biasa bukan akhir pekan atau hari libur.

Cuaca cukup terik, kami pun berteduh di sebuah warung tenda. Selain dipadati pengunjung, tempat ini juga dipenuhi warung tenda yang menyediakan tikar, makanan dan minuman. Kehadiran warung tenda ini cukup membantu bagi pengunjung yang haus dan lapar. Namun tentu saja imbasnya adalah tumpukan sampah. Sangat disayangkan, tempat seindah ini dikotori oleh tumpukan sampah sisa makanan dan botol minuman. Ini harus menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat setempat.

Seperti memanfaatkan keberadaan objek wisata baru, masyarakat juga mendulang rezeki, semua punya harga. Mulai dari kamar mandi hingga spot untuk berfoto juga dikenakan tarif. Harganya berkisar Rp1000-Rp2000. Fasilitas yang tersedia juga masih sangat minim, kamar mandi yang tersedia juga masih sederhana, bahakan ada yang hanya ditutupi bebrapa helai kain panjang. jika tidak siap, rumah warga juga banyak menyediakan fasilitas toilet.

Kami pun kembali menikmati keindahan si kawah biru. Kami pun harus mengelilingi pinggiran danau untuk bisa mencapai pusat endapan air panas. Bau belerang langsung menyengat hidung ketika kami berada di pusat endapan air panas. Airnya juga cukup panas dan Anda harus berhati-hati karena terdapat endapan kapur yang sedikit licin. pepohonan di sekitar danau ini pun ikut mongering karena cairan sulfur dari endapan mata air. Namun sayang, lagi-lagi kami juga menemukan tumpukan sampah yang risih dipandang. Hampir menutupi satu sisi danau. Harusnya kawasan ini harus steril dari sampah.

tinggi raja2

Pesona Tinggi raja juga tidak terlepas dari berbagai mitos yang masih dipercaya oleh penduduk setempat.Kami sempat bercerita dengan seorang ibu penjual makanan yang juga penduduk setempat, bernama Lina Boru Purba. Menurut Lina, lokasi danau yang ada saat ini, baru muncul sekitar tahun 2010 lalu. Sebelumnya danau ini berada di sebelah Timur, lalu pernah berpindah ke sebelah Barat. Sebelumnya hanya berupa kolam-kolam kecil, dengan mata air panas. Tahun 2010 mulai ditemukan sebuah kolam kecil yang semakin lama membesar menjadi danau.

Beragam cerita tentang asal muasal bukit kapur ini juga banyak berkembang di mayarakat setempat. Menurut Lina, puluhan tahun lalu ketika Raja dan penduduk Tinggi Raja tengah merayakan pesta panen, ada seorang nenek yang hidupnya sangat memprihatinkan dan hidup sebatang kara. Raja pun memerintahkan beberapa hambanya untuk mengantarkan makanan kepada sang nenek. Namun, ditengah perjalanan, para hamba memakan habis seluruh makanan yang ada. Sang nenek pun marah dan memukulkan tongkatnya ke tanah lalu mengutuk seluruh penghuni. Seketika muncullah banyak mata air di halaman rumah warga.

Ada juga versi lain yang berkembang. Dulunya kampung ini bernama Bauan. Suatu saat raja tengah melakukan kenduri. Ritual kenduri memiliki pantangan yakni tidak dibenarkan memakan hati kerbau. Namun, sangat disayangkan, anak sang Raja mengambil hati kerbau itu dan memakannya bersama warga desa. Mereka akhirnya terkena sumpah Tinggi Raja mengakibatkan seluruh warga harus berhadapan dengan kematian. Begitu juga dengan sang anak raja, yang mati akibat air panas yang menghempas dirinya. Air panas ini menjadi asal muasal terbentuknya bukit kapur Tinggi Raja.

Obyek wisata ini memang belum terekplorasi dengan baik. Keberadaanya yang berada tepat di tengah-tengah kawasan hutan lindung yang luasnya mencapai 176 hektar, membuat obyek wisata ini belum sangat dikenal. Objek wisata Kawah Putih Tinggi Raja memliki lahan kawah seluas 4 hektare. Pesonanya sungguh sangat mengagumkan. Saya terpesona melihat keindahan bukit putih kapur dengan aliran angin panas ditambah dengan hijaunya danau yang menyejukkan mata, seolah-olah menciptakan gradasi warna yang indah.

Uap dari aliran air panas yang mengalir diantara bebatuan semakin menambah kesan dramatis tempat ini. Sumber air panas ini berasal dari bukit-bukit kecil yang berada di tempat itu. Aliran air panas mengalir diantara bebatuan kapur yang berundak-undak, warnanya putih menyerupai salju. Ada pula yang menyebutnya dengan Salju Panas.

Ada beberapa tempat yang bisa Anda kunjungi di sini. Selain keindahan bukit kapur yang dilalui aliran air panas, ada juga danau hijau tempat berlabuhnya aliran air panas. Menurut masyarakat sekitar, warna hijau ini tercipta dari endapan lumut. Karena kedalaman danau yang belum diketahui, pengunjung dilarang untuk mandi di danau ini. Bahkan menurut ceritanya, danau ini pernah memakan korban sepasang muda-mudi yang tenggelam dan tubuhnya hangus terbakar akibat suhu air yang terlalu panas.

Jika Anda ingin berenang, terdapat aliran sungai di sisi lain danau ini. Airnya cukup tenang dan dingin. Ada juga air terjun dan mata air panas yang suhunya tidak terlalu panas. Air panas yang mengandung belerang ini dipercaya ampuh menyembuhkan penyakit kulit dan terapi mengobati kelelahan tubuh.

Tak terasa hari pun menjelang sore, dan langit mulai mendung. Kami pun bergegas menuruni bukit kapur menuju area parkiran. Tarif parkir yang berlaku adalah Rp25ribu untuk mobil dan Rp5ribu untuk sepeda motor. Berjarak 500 meter dari area parkiran terdapat pula kawah kecil berwarna biru langit yang menurut masyarakat setenpat, kawah ini adalah asal muasal kawah putih. Kami pun memarkirkan kendaraan dan menyempatkan diri berfoto di tempat ini. Lagi-lagi kami pun diharuskan membayar Rp2ribu untuk dapat berfoto di tempat ini. Fantastis!

Keberadan Kawah Putih Tinggi Raja menambah kekayaan dan keindahan alam yang dimiliki wilayah Sumatera Utara. Akomodasi dan kondisi jalan yang masih sangat minim harusnya menjadi masalah yang harus segera diselesaikan oleh pemerintah setempat. Belum lagi banyaknya pungli oleh masyarakat setempat, sedikit mengganggu para wisatawan yang datang. Hendaknya retribusi harus segera ditetapkan agar tidak terjadi penyelewengan.

Marissa Anita : Saya Rindu Media yang Mendidik

MA

Siapa yang tak mengenal wanita yang satu ini. Wajah­nya mulai menghiasi layar kaca sejak tahun 2008 ketika ia bergabung menjadi News Anchor di Metro TV. Lima tahun berlalu ia pun memutuskan melanjutkan karir jurnalistiknya dengan bergabung di stasiun televisi lainnya, Net Media. Suatu momen yang berharga bagi saya ketika bisa bertatap muka langsung dengannya.

Sosok Marissa Anita belakangan semakin dikenal ketika ia didaulat membawakan program berita Indonesia Morning Show (IMS) yang ditayangkan di stasiun televisi Net Media. Ia bersama kedua rekannya selalu mulai menyapa pemirsa sejak pukul 6 hingga 9 pagi.

Saya beruntung bisa mewawancarai wanita berdarah campuran Tionghoa, Jawa dan Minang ini ketika ia berkunjung ke Medan awal Februari lalu. “Hai, terima kasih telah mengejar saya sampai ke bandara,” sapaan pertama yang ia lontarkan ketika bertemu dengan KOVER Magazine. Sambutannya yang hangat langsung membuat kami merasa akrab. Yah, Marissa Anita memang dikenal memiliki personality yang humble dan senantiasa ceria.

“Ini kunjungan pertama saya ke Medan. Saya nggak nyangka Medan punya ­bandara sekeren ini. Mengingatkan saya pada bandara di Singapore,” ujar wanita kelahiran Surabaya 29 Maret 1983 ini. Kunjungannya saat itu dalam rangka menunaikan tugas untuk mewawancarai Surya Paloh yang tengah berkunjung ke Sinabung.

“Saya mengikuti kegiatan Bapak Surya Paloh selama di Sinabung. Ini bagian dari program acara Satu Indonesia,” ungkapnya. Ia menuturkan pengalamannya ketika berkunjung ke Sinabung. “Saya sangat terkesima dengan keindahan Sinabung. Saya menyebut Sinabung itu ‘Nyonya Cantik yang Sedang Galau,’ karena dia belum berhenti erupsi. Kadang marah kadang tenang,” ungkapnya sambil tersenyum.

Marissa juga berkesempatan berinteraksi langsung dengan para pengungsi dan bisa merasakan penderitaan yang ­dialami para pengungsi. “Saya mengunjungi Batu Karang. Kondisinya mereka memang betul-betul membutuhkan bantuan.Bukan hanya dari segi sembako sih tapi menurut saya lebih ke lapangan pekerjaan ya. Akibat erupsi Sinabung, mereka kehilangan lahan sehingga tidak bisa bercocok tanam,” ujar­nya dengan mimik serius. Ia berharap apa yang dijanjikan oleh pemerintah bisa segera direalisasikan.

Jatuh cinta pada jurnalistik

Saat ini ia berprofesi sebagai News Anchor di Net Media. Ketika diberi pertanyaan mengenai bagaimana ia bisa terjun ke dunia jurnalistik, dengan semangat ia mulai bercerita. “Well, sebenarnya saya nggak pernah menyangka bisa terjun ke dunia ini (jurnalistik-red), dulunya saya berkeinginan untuk kerja di ­majalah. Karena menurut saya kerja di ­majalah itu keren, dan bisa membuka wawasan,” kenangnya. “Mungkin ini rencana Tuhan yah. Saya percaya jika perjalanan hidup kita ini 50 persen Tuhan yang ngatur sisanya adalah usaha kita,” ujar anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Setelah menamatkan S1-nya di Universitas Atma Jaya Jakarta, jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, ia sempat menjadi guru Bahasa Inggris. Ketertarikannya dengan dunia media melatarbelakangi keputusannya mengambil pasca sarjana jurnalistik di University of Sydney, New South Wales, Australia. Ia berhasil menamatkan S-2 dengan predikat lulusan terbaik. Semasa kuliah di Australia, Marissa sering pulang ke Indonesia dan sempat pula ia magang sebagai freelence writer di majalah Tatler. Dari sinilah ia semakin jatuh hati terhadap dunia jurnalistik.

“Tahun 2007 saya kembali ke Indonesia, kebetulan ada vacancy Journalist Development Program (JDP) di Metro TV. Tanpa pikir panjang, langsung saya coba saja.Prosesnya panjang banget. Menjalani lima tahap seleksi akhirnya saya diterima. Tiga tahun pertama saya menjadi reporter, tahun berikutnya saya menjadi News Anchor. Saya pun semakin jatuh hati kepada dunia ini (jurnalistik-red),” ujarnya panjang lebar.

Lima setengah tahun lamanya ia bergabung dengan Metro TV. Saat ini ia bergabung dengan Net Media. Ketika ditanya mengenai keputusan­nya bergabung dengan stasiun televisi ini dengan spontan ia tertawa lepas. Raut wajahnya semakin ceria sembari ia menjelaskan alasan kepindahannya.

“Saya lompat ke Net karena Net memiliki visi yang lebih ke saya. Dulu bergabung di Metro TV juga visi misinya memiliki kesamaan dengan saya.Bagi saya pendidikan adalah hal yang utama.Taqline Metro TV adalah knowledge to elevate. Saya setuju dengan misinya, yakni men­didik ­masyarakat Indonesia untuk lebih pintar,” ujarnya.

Menurutnya jika seseorang itu pintar, otomatis mempunyai analisa yang lebih baik, sehingga masyarakat akan memilih pejabat-pejabat yang memiliki kompetensi. “Saya memilih kamu karena kamu kompeten, bukan karena kamu terkenal ataupun kaya. Tapi karena kamu kompeten,” tegasnya.

Lalu Net Media datang menghampirinya.Dengan tagline Televisi Masa Kini, Net Media datang dengan ­konsep baru. “Kita sudah muak ­dengan media-media yang ada sekarang. Media televisi sudah mulai ­melenceng. Saya nggak tahu bagaimana sebuah lembaga riset membuat atau menghasilkan data bahwa acara pukul-pukulan, tepung-tepungan, ketawa-ketawa nggak jelas itu bisa bagus ratingnya,” ungkapnya dengan lugas.

Menurutnya, Net Media mencoba memberikan pilihan kepada masya­rakat yang sudah capek dengan tayangan-tayangan yang sifatnya membodohi. Media saat ini sudah tidak terkontrol.Sebagai seorang konsumen media, Marissa merindukan media yang memiliki misi mendidik, dan Net Media hadir menjawab kebutuhan tersebut.Acara-acara yang ditayangkan menghibur tapi tetap memiliki nilai edukasi.

“Ketika saya masih kecil saya masih merasakan televisi yang mendidik, ada Si Komo, Casper, dan Sesame Street. Tayangan itu semuanya memiliki ­unsur mendidik.Bagaimana dengan anak-anak zaman sekarang? Mereka disuguhi apa? Lagu anak-anak juga tidak ada lagi. Belum lagi ada internet sebagai pengaruh globalisasi semuanya sudah ngga ada batas,” ucapnya dengan nada serius.

Alasan inilah yang membulatkan tekad istri dari Andrew Trigg ini untuk bergabung dengan Net Media. “Saya dan Net Media memiliki visi dan misi yang sama. Yang saya suka dari Net itu adalah Can Do (Kita Bisa). Kita bisa lakuin apapun.Bahkan CEO kita tidak membatasi kreatifitas.Orang kreatif dikasih begitu yah lepas donk.Yang penting acaranya bagus ada value-nya dan bisa dipertanggungjawabkan.Setiap kali kita selesai program kita selalu evaluasi. Semua orang bisa berbicara terbuka dan bebas, dan ada juga kritik tapi selalu yang membangun bukan menjatuhkan,” ujarnya dengan penuh antusias.

HANYA MENJADI MANUSIA

Wanita cantik ini memang dikenal ramah dan hangat. Tidak hanya di luar studio, namun hal ini ia tunjukkan saat ia membawakan program IMS. Meskipun tutur bahasanya lembut, ia tak segan tertawa lepas dengan tawanya yang khas ataupun menunjukkan wajah penuh ekspresi. Bahkan ia tak malu jika harus melompat dan berlari seperti anak kecil. Baginya tertawa lepas dan tampil apa adanya adalah bagian menjadi manusia.

“Yah itu bagaimana saya menjadi manusia. Menjadi presenter bukan harus menjadi ­makhluk yang berbeda. Saya lebih suka melihat orang yang tidak berbeda antara di kamera dengan aslinya, karena itu akan terlihat lebih genuine (murni, asli-red),” ujar wanita yang menguasai lima bahasa ini.

Menurutnya seorang presenter harus menjadi diri sendiri, agar lebih mudah dipahami oleh penonton. Dengan begitu akan tercipta connection antara presenter dan penonton ­sehingga penonton merasa nyaman dengan apa yang mereka lihat dan mereka bisa me­ngerti dengan apa yang disampaikan presen­ter. “Sudah banyak orang yang penuh dengan pencitraan, mengapa kita tidak menjadi diri sendiri saja,”celotehnya.

Seseorang yang ingin terjun ke dunia jurnalistik khususnya media penyiaran, modal awalnya adalah harus menyukai bidang ini. Jika bekerja dengan passion yang kita minati hasilnya akan maksimal. Seorang jurnalis harus memiliki rasa empati, sehingga ketika ia menyampaikan berita, penonton bisa merasakan peristiwa yang tengah dilaporkan. Ia juga harus berwawasan luas dan harus siap bekerja dalam jam kerja yang “gila-gilaan”.

Selain bertugas sebagai News Anchor di program IMS, ia didaulat untuk membawakan sebuah acara, Satu Indonesia. Saat ini ia tengah menyiapkan ­program acara baru yang masih dirahasiakannya. Marrisa juga berperan sebagai News Talent Coordinator untuk Net Media.

Lepas dari kesibukannya sebagai pekerja media, Marrisa juga memiliki bebrapa hobi yang ia akui sebagai obat mujarab untuk menghilangkan stres dari rutinitas pekerjaan. Selain jurnalistik, Marrisa memiliki passion lainnya di bidang entertainment yakni teater, film dan musik. Jangan heran jika Anda mengajaknya berbicara mengenai ketiga hal ini ia akan bercerita sangat antusias.

Sebelum menjadi seorang jurnalis ia telah menjadi pemain teater. Ia mulai jatuh hati pada teater sejak masih kuliah di Atmajaya. Tahun 2005 ia bergabung dengan Jakarta Players, sebuah kelompok teater gabungan yang beranggotakan warga lokal dan ekspatriat. Teater menjadi penyeimbang hidupnya. Bahkan wanita berkulit putih ini bertemu dengan sang suami melalui teater.

Tahun 2013, penyuka makanan Sushi dan Sashimi ini ikut ambil bagian dalam pementasan tarian Legendra Padusi, sebuah karya maestro tari Tom Ibnur yang mengangkat kisah legenda perempuan (padusi) Minangkabau. Sejak bergabung dengan Net Media, Marissa mengaku belum sempat lagi main teater.

Selain teater, Marrisa juga menyukai film. Waktu luang akan ia pergunakan untuk menonton film. Tak ada batasan genre film, namun film ber-genre drama merupakan favoritnya. “Saya juga menyukai film. Pernah saya sakit selama 2,5 minggu, per harinya saya bisa menonton delapan film. Jadi selama saya sakit lebih dari 40 film saya tonton,” ujarnya sambil tertawa lepas. Ia juga pernah mengisi kolom Movie Review di Waspada Online.

Pengagum Meryl Streep ini juga pernah menjejal seni peran lainnya yakni acting. Ia sempat beradu acting dengan Atika Hasiholan dalam sebuah film pendek berjudul Broken Vace.Ia juga menyimpan bakat di bidang tarik suara. Di beberapa kesempatan ia pernah memperdengarkan suara merdunya dalam sebuah nyanyian. Menyanyi diakuinya bisa membuatnya rileks dan ampuh untuk mengatasi rasa nervous terlebih saat ia akan siaran. Wanita ini memang spesial dan sangat berbakat.

IBU ADALAH SEGALANYA

Keluarga tetap menjadi prioritas bagi Marissa.Belakangan rutinitas yang sangat padat membuatnya kewalahan untuk membagi waktu bersama keluarga.Weekend adalah saat yang paling ia tunggu, karena inilah waktu bersama keluarga. “Setiap weekend saya harus bersama keluarga, bahkan saya nggak terima telepon dari kantor. Ini cara saya untuk menyeimbangkan waktu saya antara pekerjaan dan keluarga,” ujarnya.

Hal lainnya yang bisa membuat Marissa bahagia adalah memasak. Ternyata ia juga cukup mahir di dapur. “Kalau saya bisa pulang lebih awal saya sempatkan untuk masak. Masak itu penting ,it’s make me happy. Coba bayangin kita sendirian di dapur, kondisinya tenang.Saya bebas berkreasi dengan bahan-bahan yang ada di dapur. Untungnya suami saya tidak rewel, jadi apapun yang saya masak pasti ia santap,” ucapnya lagi sambil tertawa lebar. “Sekarang sih saya suka masak tumisan, karena gampang banget. Tinggal tumis bawang putih, tambahkan garam, masukin bahan utamanya, voila jadi deh,” ungkapnya dengan riang.

Raut wajahnya berubah serius ketika ditanya mengenai sosok motivator bagi seorang Marissa. “Well that’s a interesting question. Ibu adalah motivator saya. Sejak kecil ibu menanamkan bahwa saya harus pintar dan harus bekerja, agar nantinya saya tidak bergantung kepada orang lain.

Menurutnya menjadi seorang ibu ­rumah tangga yang memiliki tanggung­jawab merawat dan mendidik anak bukanlah perkara yang gampang.Karena kita dihadapkan pada seorang anak manusia yang memiliki emosi bukan mesin dan bukan sebuah sistem yang bisa kita atur sesuai kehendak kita.

“Bagi saya,Ibu memiliki kecerdasan emosi yang tinggi. Darinya saya belajar emotional intelegency. Ibu juga yang mengatakan bahwa saya harus selalu menempatkan diri di tempat orang lain. Kalau kamu tidak mau disakiti kamu jangan menyakiti.Toh kita semua sama, sama-sama manusia,” ujarnya. Inilah yang menjadi tolak ukur baginya dalam berinteraksi dengan orang lain.

“Sejak kecil saya sudah terbiasa mandiri bahkan diusia menginjak 20 tahun saya pernah memutuskan untuk tidak menikah. Saya pernah mengalami krisis kepercayaan.Perlu 2,5 tahun bagi suami saya untuk menyakinkan hati saya. Dia sangat konsiten dan sabar, itu yang membuat hati saya luluh,“ ungkapnya sambil tersipu malu.

Ia akui bahwa suami adalah sosok lainnya yang berperan penting dalam pencapaian kehidupannya saat ini. “Dari suami saya belajar komunikasi dan kejujuran. Komunikasi yang baik itu penting apakah dalam hubungan keluarga dan pekerjaan.Komunikasi itu harus sejajar.Antara saya dan suami tidak ada kebohongan. Apa pun kondisi saya akan saya tuturkan, begitu juga sebaliknya,” ujarnya.

Sepahit apa pun kejujuran itu akan lebih baik daripada kebohongan. Kebohongan hanya akan menghilangkan kepercayaan orang lain terhadap kita. Baginya tidak ada yang namanya kebohongan putih.

Dengan segala pencapaian yang telah ia raih saat ini, baik di dalam pekerjaan maupun keluarga, Marissa mengaku sudah bahagia dengan apapun yang ia miliki. “Wanita yang berhasil menurut saya adalah wanita yang bahagia dengan hidup yang ia miliki. Saya sudah merasa bahagia den sangat bersyukur dengan segala perjalanan kehidupan saya.Apapun pilihan hidup Anda jalani saja. Asalkan membuat Anda bahagia, why not? It’s your life rite,” ujarnya dengan penuh semangat mengakhiri obrolan kami siang itu.

Marissa Anita : Saya Rindu Media yang Mendidik

MA

Siapa yang tak mengenal wanita yang satu ini. Wajah­nya mulai menghiasi layar kaca sejak tahun 2008 ketika ia bergabung menjadi News Anchor di Metro TV. Lima tahun berlalu ia pun memutuskan melanjutkan karir jurnalistiknya dengan bergabung di stasiun televisi lainnya, Net Media. Suatu momen yang berharga bagi saya ketika bisa bertatap muka langsung dengannya.

Sosok Marissa Anita belakangan semakin dikenal ketika ia didaulat membawakan program berita Indonesia Morning Show (IMS) yang ditayangkan di stasiun televisi Net Media. Ia bersama kedua rekannya selalu mulai menyapa pemirsa sejak pukul 6 hingga 9 pagi.

Saya beruntung bisa mewawancarai wanita berdarah campuran Tionghoa, Jawa dan Minang ini ketika ia berkunjung ke Medan awal Februari lalu. “Hai, terima kasih telah mengejar saya sampai ke bandara,” sapaan pertama yang ia lontarkan ketika bertemu dengan KOVER Magazine. Sambutannya yang hangat langsung membuat kami merasa akrab. Yah, Marissa Anita memang dikenal memiliki personality yang humble dan senantiasa ceria.

“Ini kunjungan pertama saya ke Medan. Saya nggak nyangka Medan punya ­bandara sekeren ini. Mengingatkan saya pada bandara di Singapore,” ujar wanita kelahiran Surabaya 29 Maret 1983 ini. Kunjungannya saat itu dalam rangka menunaikan tugas untuk mewawancarai Surya Paloh yang tengah berkunjung ke Sinabung.

“Saya mengikuti kegiatan Bapak Surya Paloh selama di Sinabung. Ini bagian dari program acara Satu Indonesia,” ungkapnya. Ia menuturkan pengalamannya ketika berkunjung ke Sinabung. “Saya sangat terkesima dengan keindahan Sinabung. Saya menyebut Sinabung itu ‘Nyonya Cantik yang Sedang Galau,’ karena dia belum berhenti erupsi. Kadang marah kadang tenang,” ungkapnya sambil tersenyum.

Marissa juga berkesempatan berinteraksi langsung dengan para pengungsi dan bisa merasakan penderitaan yang ­dialami para pengungsi. “Saya mengunjungi Batu Karang. Kondisinya mereka memang betul-betul membutuhkan bantuan.Bukan hanya dari segi sembako sih tapi menurut saya lebih ke lapangan pekerjaan ya. Akibat erupsi Sinabung, mereka kehilangan lahan sehingga tidak bisa bercocok tanam,” ujar­nya dengan mimik serius. Ia berharap apa yang dijanjikan oleh pemerintah bisa segera direalisasikan.

Jatuh cinta pada jurnalistik

Saat ini ia berprofesi sebagai News Anchor di Net Media. Ketika diberi pertanyaan mengenai bagaimana ia bisa terjun ke dunia jurnalistik, dengan semangat ia mulai bercerita. “Well, sebenarnya saya nggak pernah menyangka bisa terjun ke dunia ini (jurnalistik-red), dulunya saya berkeinginan untuk kerja di ­majalah. Karena menurut saya kerja di ­majalah itu keren, dan bisa membuka wawasan,” kenangnya. “Mungkin ini rencana Tuhan yah. Saya percaya jika perjalanan hidup kita ini 50 persen Tuhan yang ngatur sisanya adalah usaha kita,” ujar anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Setelah menamatkan S1-nya di Universitas Atma Jaya Jakarta, jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, ia sempat menjadi guru Bahasa Inggris. Ketertarikannya dengan dunia media melatarbelakangi keputusannya mengambil pasca sarjana jurnalistik di University of Sydney, New South Wales, Australia. Ia berhasil menamatkan S-2 dengan predikat lulusan terbaik. Semasa kuliah di Australia, Marissa sering pulang ke Indonesia dan sempat pula ia magang sebagai freelence writer di majalah Tatler. Dari sinilah ia semakin jatuh hati terhadap dunia jurnalistik.

“Tahun 2007 saya kembali ke Indonesia, kebetulan ada vacancy Journalist Development Program (JDP) di Metro TV. Tanpa pikir panjang, langsung saya coba saja.Prosesnya panjang banget. Menjalani lima tahap seleksi akhirnya saya diterima. Tiga tahun pertama saya menjadi reporter, tahun berikutnya saya menjadi News Anchor. Saya pun semakin jatuh hati kepada dunia ini (jurnalistik-red),” ujarnya panjang lebar.

Lima setengah tahun lamanya ia bergabung dengan Metro TV. Saat ini ia bergabung dengan Net Media. Ketika ditanya mengenai keputusan­nya bergabung dengan stasiun televisi ini dengan spontan ia tertawa lepas. Raut wajahnya semakin ceria sembari ia menjelaskan alasan kepindahannya.

“Saya lompat ke Net karena Net memiliki visi yang lebih ke saya. Dulu bergabung di Metro TV juga visi misinya memiliki kesamaan dengan saya.Bagi saya pendidikan adalah hal yang utama.Taqline Metro TV adalah knowledge to elevate. Saya setuju dengan misinya, yakni men­didik ­masyarakat Indonesia untuk lebih pintar,” ujarnya.

Menurutnya jika seseorang itu pintar, otomatis mempunyai analisa yang lebih baik, sehingga masyarakat akan memilih pejabat-pejabat yang memiliki kompetensi. “Saya memilih kamu karena kamu kompeten, bukan karena kamu terkenal ataupun kaya. Tapi karena kamu kompeten,” tegasnya.

Lalu Net Media datang menghampirinya.Dengan tagline Televisi Masa Kini, Net Media datang dengan ­konsep baru. “Kita sudah muak ­dengan media-media yang ada sekarang. Media televisi sudah mulai ­melenceng. Saya nggak tahu bagaimana sebuah lembaga riset membuat atau menghasilkan data bahwa acara pukul-pukulan, tepung-tepungan, ketawa-ketawa nggak jelas itu bisa bagus ratingnya,” ungkapnya dengan lugas.

Menurutnya, Net Media mencoba memberikan pilihan kepada masya­rakat yang sudah capek dengan tayangan-tayangan yang sifatnya membodohi. Media saat ini sudah tidak terkontrol.Sebagai seorang konsumen media, Marissa merindukan media yang memiliki misi mendidik, dan Net Media hadir menjawab kebutuhan tersebut.Acara-acara yang ditayangkan menghibur tapi tetap memiliki nilai edukasi.

“Ketika saya masih kecil saya masih merasakan televisi yang mendidik, ada Si Komo, Casper, dan Sesame Street. Tayangan itu semuanya memiliki ­unsur mendidik.Bagaimana dengan anak-anak zaman sekarang? Mereka disuguhi apa? Lagu anak-anak juga tidak ada lagi. Belum lagi ada internet sebagai pengaruh globalisasi semuanya sudah ngga ada batas,” ucapnya dengan nada serius.

Alasan inilah yang membulatkan tekad istri dari Andrew Trigg ini untuk bergabung dengan Net Media. “Saya dan Net Media memiliki visi dan misi yang sama. Yang saya suka dari Net itu adalah Can Do (Kita Bisa). Kita bisa lakuin apapun.Bahkan CEO kita tidak membatasi kreatifitas.Orang kreatif dikasih begitu yah lepas donk.Yang penting acaranya bagus ada value-nya dan bisa dipertanggungjawabkan.Setiap kali kita selesai program kita selalu evaluasi. Semua orang bisa berbicara terbuka dan bebas, dan ada juga kritik tapi selalu yang membangun bukan menjatuhkan,” ujarnya dengan penuh antusias.

HANYA MENJADI MANUSIA

Wanita cantik ini memang dikenal ramah dan hangat. Tidak hanya di luar studio, namun hal ini ia tunjukkan saat ia membawakan program IMS. Meskipun tutur bahasanya lembut, ia tak segan tertawa lepas dengan tawanya yang khas ataupun menunjukkan wajah penuh ekspresi. Bahkan ia tak malu jika harus melompat dan berlari seperti anak kecil. Baginya tertawa lepas dan tampil apa adanya adalah bagian menjadi manusia.

“Yah itu bagaimana saya menjadi manusia. Menjadi presenter bukan harus menjadi ­makhluk yang berbeda. Saya lebih suka melihat orang yang tidak berbeda antara di kamera dengan aslinya, karena itu akan terlihat lebih genuine (murni, asli-red),” ujar wanita yang menguasai lima bahasa ini.

Menurutnya seorang presenter harus menjadi diri sendiri, agar lebih mudah dipahami oleh penonton. Dengan begitu akan tercipta connection antara presenter dan penonton ­sehingga penonton merasa nyaman dengan apa yang mereka lihat dan mereka bisa me­ngerti dengan apa yang disampaikan presen­ter. “Sudah banyak orang yang penuh dengan pencitraan, mengapa kita tidak menjadi diri sendiri saja,”celotehnya.

Seseorang yang ingin terjun ke dunia jurnalistik khususnya media penyiaran, modal awalnya adalah harus menyukai bidang ini. Jika bekerja dengan passion yang kita minati hasilnya akan maksimal. Seorang jurnalis harus memiliki rasa empati, sehingga ketika ia menyampaikan berita, penonton bisa merasakan peristiwa yang tengah dilaporkan. Ia juga harus berwawasan luas dan harus siap bekerja dalam jam kerja yang “gila-gilaan”.

Selain bertugas sebagai News Anchor di program IMS, ia didaulat untuk membawakan sebuah acara, Satu Indonesia. Saat ini ia tengah menyiapkan ­program acara baru yang masih dirahasiakannya. Marrisa juga berperan sebagai News Talent Coordinator untuk Net Media.

Lepas dari kesibukannya sebagai pekerja media, Marrisa juga memiliki bebrapa hobi yang ia akui sebagai obat mujarab untuk menghilangkan stres dari rutinitas pekerjaan. Selain jurnalistik, Marrisa memiliki passion lainnya di bidang entertainment yakni teater, film dan musik. Jangan heran jika Anda mengajaknya berbicara mengenai ketiga hal ini ia akan bercerita sangat antusias.

Sebelum menjadi seorang jurnalis ia telah menjadi pemain teater. Ia mulai jatuh hati pada teater sejak masih kuliah di Atmajaya. Tahun 2005 ia bergabung dengan Jakarta Players, sebuah kelompok teater gabungan yang beranggotakan warga lokal dan ekspatriat. Teater menjadi penyeimbang hidupnya. Bahkan wanita berkulit putih ini bertemu dengan sang suami melalui teater.

Tahun 2013, penyuka makanan Sushi dan Sashimi ini ikut ambil bagian dalam pementasan tarian Legendra Padusi, sebuah karya maestro tari Tom Ibnur yang mengangkat kisah legenda perempuan (padusi) Minangkabau. Sejak bergabung dengan Net Media, Marissa mengaku belum sempat lagi main teater.

Selain teater, Marrisa juga menyukai film. Waktu luang akan ia pergunakan untuk menonton film. Tak ada batasan genre film, namun film ber-genre drama merupakan favoritnya. “Saya juga menyukai film. Pernah saya sakit selama 2,5 minggu, per harinya saya bisa menonton delapan film. Jadi selama saya sakit lebih dari 40 film saya tonton,” ujarnya sambil tertawa lepas. Ia juga pernah mengisi kolom Movie Review di Waspada Online.

Pengagum Meryl Streep ini juga pernah menjejal seni peran lainnya yakni acting. Ia sempat beradu acting dengan Atika Hasiholan dalam sebuah film pendek berjudul Broken Vace.Ia juga menyimpan bakat di bidang tarik suara. Di beberapa kesempatan ia pernah memperdengarkan suara merdunya dalam sebuah nyanyian. Menyanyi diakuinya bisa membuatnya rileks dan ampuh untuk mengatasi rasa nervous terlebih saat ia akan siaran. Wanita ini memang spesial dan sangat berbakat.

IBU ADALAH SEGALANYA

Keluarga tetap menjadi prioritas bagi Marissa.Belakangan rutinitas yang sangat padat membuatnya kewalahan untuk membagi waktu bersama keluarga.Weekend adalah saat yang paling ia tunggu, karena inilah waktu bersama keluarga. “Setiap weekend saya harus bersama keluarga, bahkan saya nggak terima telepon dari kantor. Ini cara saya untuk menyeimbangkan waktu saya antara pekerjaan dan keluarga,” ujarnya.

Hal lainnya yang bisa membuat Marissa bahagia adalah memasak. Ternyata ia juga cukup mahir di dapur. “Kalau saya bisa pulang lebih awal saya sempatkan untuk masak. Masak itu penting ,it’s make me happy. Coba bayangin kita sendirian di dapur, kondisinya tenang.Saya bebas berkreasi dengan bahan-bahan yang ada di dapur. Untungnya suami saya tidak rewel, jadi apapun yang saya masak pasti ia santap,” ucapnya lagi sambil tertawa lebar. “Sekarang sih saya suka masak tumisan, karena gampang banget. Tinggal tumis bawang putih, tambahkan garam, masukin bahan utamanya, voila jadi deh,” ungkapnya dengan riang.

Raut wajahnya berubah serius ketika ditanya mengenai sosok motivator bagi seorang Marissa. “Well that’s a interesting question. Ibu adalah motivator saya. Sejak kecil ibu menanamkan bahwa saya harus pintar dan harus bekerja, agar nantinya saya tidak bergantung kepada orang lain.

Menurutnya menjadi seorang ibu ­rumah tangga yang memiliki tanggung­jawab merawat dan mendidik anak bukanlah perkara yang gampang.Karena kita dihadapkan pada seorang anak manusia yang memiliki emosi bukan mesin dan bukan sebuah sistem yang bisa kita atur sesuai kehendak kita.

“Bagi saya,Ibu memiliki kecerdasan emosi yang tinggi. Darinya saya belajar emotional intelegency. Ibu juga yang mengatakan bahwa saya harus selalu menempatkan diri di tempat orang lain. Kalau kamu tidak mau disakiti kamu jangan menyakiti.Toh kita semua sama, sama-sama manusia,” ujarnya. Inilah yang menjadi tolak ukur baginya dalam berinteraksi dengan orang lain.

“Sejak kecil saya sudah terbiasa mandiri bahkan diusia menginjak 20 tahun saya pernah memutuskan untuk tidak menikah. Saya pernah mengalami krisis kepercayaan.Perlu 2,5 tahun bagi suami saya untuk menyakinkan hati saya. Dia sangat konsiten dan sabar, itu yang membuat hati saya luluh,“ ungkapnya sambil tersipu malu.

Ia akui bahwa suami adalah sosok lainnya yang berperan penting dalam pencapaian kehidupannya saat ini. “Dari suami saya belajar komunikasi dan kejujuran. Komunikasi yang baik itu penting apakah dalam hubungan keluarga dan pekerjaan.Komunikasi itu harus sejajar.Antara saya dan suami tidak ada kebohongan. Apa pun kondisi saya akan saya tuturkan, begitu juga sebaliknya,” ujarnya.

Sepahit apa pun kejujuran itu akan lebih baik daripada kebohongan. Kebohongan hanya akan menghilangkan kepercayaan orang lain terhadap kita. Baginya tidak ada yang namanya kebohongan putih.

Dengan segala pencapaian yang telah ia raih saat ini, baik di dalam pekerjaan maupun keluarga, Marissa mengaku sudah bahagia dengan apapun yang ia miliki. “Wanita yang berhasil menurut saya adalah wanita yang bahagia dengan hidup yang ia miliki. Saya sudah merasa bahagia den sangat bersyukur dengan segala perjalanan kehidupan saya.Apapun pilihan hidup Anda jalani saja. Asalkan membuat Anda bahagia, why not? It’s your life rite,” ujarnya dengan penuh semangat mengakhiri obrolan kami siang itu.

Scrap Booking : Kertas-kertas Dalam Bingkai Seni

Bagi sebahagian orang mungkin masih jarang mendengar kerajinan tangan Scrap Booking. Tapi sebenarnya scrap booking sendiri sudah mulai ada pada abad ke-15 dimulai dari negara Inggris. Dahulu, orang-orang mulai mengumpulkan foto keluarga mereka ke dalam sebuah buku yang dihiasi dengan berbagai macam aksesoris dapat berupa pita, kancing, daun kering, lipatan kertas bekas, puisi dan sebagainya. Alhasil buku tersebut menyerupai album foto yang sangat unik dan menarik.

Sekarang ini scrap booking mengalami perkembangan yang cukup pesat. Ornamen yang ditambahkan pun semakin beragam. Tidak hanya pita, daun kering atau lipatan kertas saja, tetapi penggunaan bahan daur ulang seperti potongan goni, kain perca, rol film juga sudah mulai ditambahkan sebagai hiasan. Di Indonesia sendiri scarap booking mulai berkembang pada tahun 1999. Dan saat ini mulai berkembang di beberapa kota besar seperti Jakarta, Surabaya dan Yogyakarta.

Di medan sendiri Scrap Booking belum terlalu popular. Tetapi itu tidak menyurutkan tekad Carina untuk memulai usaha tersebut di kota yang terkenal dengan Bika Ambon ini. “Saya melihat di Medan belum ada yang menggeluti Scrap Booking, padahal Scrap Booking itu unik dan hasilnya punya nilai seni yang tinggi” ujar alumni SMU St. Thomas 1 itu.

Berawal dari hobi yang sudah dimulainya sejak tahun 2009, ia mengakui bahwa dirinya memang sangat tertarik dengan kertas. Menurutnya dibutuhkan kreatifitas dan kesabaran yang tinggi jika kita mau memulai Scrap Booking. “Awalnya saya membuat satu karya Scrap Booking untuk sahabatku, dan ternyata banyak orang yang suka dengan hasil karyaku. Kemudian berlanjut membuat album foto untuk keluargaku”, ujar wanita kelahiran Yogyakarta 26 tahun silam itu.

Mei 2011 yang lalu ia memulai menerima pesanan dari beberapa teman melalui website pribadinya. Dan hasilnya tidak sedikit orang memesan Scrap Booking walaupun mayoritas masih dari luar kota Medan seperti Jakarta, Yogya bahkan Singkawang.

Memberanikan diri menjadikan Scrap Booking sebagai bisnis, alumni  Sastra Perancis UGM dan Ilmu Komunikasi Atma Jaya Yogyakarta ini mematenkan usahanya dengan menggunakan CartaRina Srap sebagai label. “Cartarina sendiri diambil dari bahasa Itali yang artinya “Kertas” dan Rina, nama saya sendiri yang berarti “Preety”,” ujar wanita yang juga sempat mengemban pendidikan di Itali ini sambil tersenyum.

Hasil karyanya tidak hanya berupa album foto, tetapi juga notes, pigura dan diary. Yang unik, setiap hasil karyanya hanya didesain secara khusus untuk yang memesan, artinya tidak ada desain yang persis sama.

“Setiap pemesan boleh menentukan desain sesuai keinginan mereka. Mulai dari bahan kertas yang digunakan, warna, ukuran, dan ornament yang ditampilkan. Jadi sifatnya lebih personal. Pastinya setiap orang punya selera yang berbeda-beda” tambahnya sembari mengerjakan album foto pesanan pelanggannya.

Seluruh proses produksi masih dikerjakannya seorang diri di sebuah ruangan berkururan 4mx5m itu. Setiap karya bisa memakan waktu pengerjaan selama 3-4 hari tergantung tingkat kesulitan. “Kedepannya saya memang berencana untuk membuka gerai di Medan, tapi untuk sekarang cukup secara online dan datang lagsung kemari (rumah),” tambah pencinta fotografi itu.

CartaRina Art & Craft

 

 

 

The Stage Cafe : Santai Sejenak di “Outdoor” Kafe

The Stage Cafe

Penulis: Tania Meliala | Foto: Aidil Syaputra/Dok. The Stage

Menikmati waktu bersantai selepas rutinitas kantor di area outdoor dengan penataan tanaman yang indah serta ditemani alunan musik akustik, pastinya memberikan kesan berbeda dibandingkan ketika Anda mengunjungi kafe indoor. Tak hanya suasana yang nyaman dan fasilias yang lengkap, variasi berbagai menu Urban Fussion tersedia untuk memanjakan lidah Anda. Hal inilah yang bisa Anda temukan di The Stage Café.

Terletak di Jl. Sei Serayu No. 14 Medan, The Stage Café hadir menawarkan konsep outdoor kafe yang masih jarang ditemukan di kota Medan serta menyajikan variasi menu makanan Urban Fussion Eastern food dan Western food yang pastinya menggugah selera.

 “Kita menamakanannya The Stage yang artinya panggung karena kafe ini merupakan bagian dari Procomm Group. Kata ‘stage’ kita pilih untuk mewakili bisnis pertunjukan yang digeluti perusahaan kami. Procomm Group memang tengah melebarkan sayap ke bisnis kuliner,” ungkap Sofyan Nasution selaku pemilik. Procomm group merupakan salah satu Corporate Event Organizer di Medan yang dipelopori dua bersaudara yaitu Sofyan dan sang adik, M. Ichan Nasution sejak tahun 2001.

 Kesan hangat langsung terasa ketika memasuki kafe yang interiornya didesain dengan konsep modern minimalis. Deretan foto historia perjalanan bisnis pertunjukkan, tertata apik di setiap dinding kafe. Unsur tradisional juga terlihat dari umbul-umbul khas Bali yang tersusun rapi di area pintu masuk kafe yang baru saja mengadakan soft opening pada tanggal 15 Juni 2012.

 Memasuki kafe yang didominsi warna putih dan hitam, para pengunjung akan disambut dengan sapaan “Guest Coming” dan pelayan akan menyambut sapaan itu dengan “Show Time” yang berarti pertunjukan (dalam hal ini pelayanan) terhadap pengunjung akan dimulai.

 “Kafe ini mulai beroperasi ‘after office hour’, yakni pukul 16.00 WIB. Momen yang pas untuk rileks menikmati sore hari. Selain itu cuacanya juga tidak panas lagi, jadi pas untuk bersantai meskipun di area outdoor,” ungkap Sofyan.

 Sesuai dengan konsep “stage” yang ditawarkan pastinya The Stage Café tidak lengkap tanpa menyuguhkan sebuah pertunjukan. “Setiap hari Rabu dan Sabtu, pengunjung akan dihibur oleh homeband yang menyajikan lagu-lagu Classic Rock pada hari Rabu dan lagu-lagu Top 40 pada hari Sabtu. Bar akan kita sulap menjadi mini panggung untuk homeband,” tambah Ichan.

 Area outdoor dilengkapi dengan meja dan kursi kayu berwarna putih yang tertata rapi. Mendekati malam, hiasan cahaya lilin yang tersedia di setiap meja dan di dukung pencahayaan yang apik, menambah kesan romantis.

Menu Istimewa ala The Stage Café

Kafe yang beroperasi dari pukul 16.00 WIB -23.00 WIB ini menyajikan citarasa Eastern dan Western food yang disajikan dalam konsep urban fussion. “Kita menyajikan Eastern dan Western food dalam konsep urban fussion. Mungkin banyak menu makanan di kafe kami bisa ditemukan di tempat lain, yang membedakannya adalah penyajiannya yang tidak biasa. Misalnya nasi goreng atau mie goreng di sini disajikan dengan ala western,” ungkap Rulliansyah Utama Lubis selaku Operational manager.

 Pengunjung dapat mencicipi menu The Stage Café lengkap dari hidangan appetizer, main course Eastern dan Western food, beverages dan dessert. Menu andalan The Stage Café, di antaranya Caesar Salad, Buffolo Wings, Springroll dan Tahu Gejrot merupakan makanan pembuka favorit. “Biasanya di Jakarta kita bisa menemukan Tahu Gejrot sebagai jajanan pinggir jalan, tapi di kafe ini kita sajikan dengan style yang berbeda,” ungkap Sofyan.

 Tersedia juga menu “Eastern Food”, yakni Soto Betawi dan Iga Bakar yang diakui Sofyan menjadi menu favorit para pengunjung. Ada juga Sapi Lada Hitam, Gurame Goreng dan lainnya. Untuk menu “Western food” tersedia Chicken Cordon Bleu, Fettucine Marinara, Spaghetti Bolognise, Hot Dog dan tentunya menu favorit Beef Wonk yang pastinya belum pernah Anda temui di kafe manapun. Potongan daging Ternderloin empuk dan krispi disiram dengan saus spesial ala The Stage Café pastinya nikmat untuk menu santap malam Anda.

 “Untuk dessert kita punya menu spesial Tortufo berupa campuran tiga rasa eskrim, diisi dengan taburan kismis dan cocho chip disajikan dengan caramel, merupakan menu yang harus dicicipi. Yang membuat spesial, pengolahan Tortufo memerlukan waktu 2-3 hari penyimpanan di lemari es sehingga tidak ready stock. Makanya ini menjadi favorit dessert,” jelas Ruliansyah. Tersedia juga Hot and Cold berupa es krim yang digoreng, Banana Split, Pancake ala Mode dan lainnya.

 Tersedia juga berbagai pilihan menu minuman segar berupa Fresh Juice, Moctail, Squash, Milk Shake, Mix Fresh Juice, Bir dan lainnya. Keseluruhan menu makanan pun masih ekonomis berkisar Rp. 15-60ribu sedangkan untuk minuman berkisar Rp.10-20 ribu.

beef wonk

 Kenyamanan The Stage Café dilengkapi dengan area parkir yang luas, Wifi, area indoor sebanyak 10 meja kapasitas 20 orang yang bisa digunakan untuk tempat meeting ataupun arisan lengkap dengan sound system.  Untuk penyewaan tempat di kenakan biaya Rp. 3juta sudah termasuk sound system.

 “Karena dasar kita memang bergerak di bidang event organizer, kita terbuka untuk acara apapun misalnya Nobar (nonton bareng), Bukber (Buka Bersama) dan lainnya. Maka ke depannya The Stage Café juga berencana mengadakan beberapa even diantaranya media ghatering, pelatihan fotogrofi dan lainnya,” ungkap Sofyan.

The Stage Café

Jl. Sei Serayu No. 14

Komplek The Mansion, Medan 20122

Tlp. (061) 777 89060

Bersantai di Old Chicago ala Cosa Nostra Bistro

Jejeran beberapa foto vintage ala Chicago tersusun rapi di dinding sebelah pintu masuk menyambut para pengunjung. Atmosfer klasik memang langsung terasa ketika memasuki bistro yang resmi dibuka pada tanggal 15 Mei 2012 lalu dan  lokasinya berada satu wilayah dengan resto Madam Kwok yakni di Cambridge Mall Lt. Dasar, Jl. S. Parman 217 Medan.

Foto : Aidil Syahputra

Cosa Nostra Bistro merupakan konsep terbaru dari Kalyana Culinario selain resto Madam Kwok. Berbeda dengan Madam Kwok, Cosa Nostra Bistro menghadirkan berbagai varian makanan western yang pastinya menggugah selera dan mengusung konsep old Chicago sebagai ciri khas Cosa Nostra.

“Cosa Nostra berasal dari bahasa Italia yang artinya “The thing of ours”. Nama Cosa Nostra mewakili nuansa elegant, casual sehingga memberi rasa nyaman kepada siapapun yang datang. Lebih jauh lagi, Cosa Nostra merupakan statement dimana kami ingin lebih dekat lagi dengan pengunjung dan berusaha untuk memberikan yang terbaik.” ungkap Yudha Prayoga selaku Operational Manager.

Sembari menikmati hidangan yang tersaji ditemani iringan musik soulful house ala Cosa Nostra pastinya memberi suasana berbeda dan pastinya membuat Anda rileks. “Kita tetap mempertahankan konsep bistro bukan discotic jadi musik yang kami tampilkan juga soulful bukan keras dan tidak dalam ruangan gelap. Disini lebih terang dan ceria,” tambah Yudha.

Selain nuansa vintage, Cosa Nostra Bistro menyajikan spot dengan view yang berbeda khususnya bagi Anda yang ingin mendapatkan suasana lebih santai dan rileks bersama teman, Anda bisa memilih spot di area outdoor. Desainnya tak kalah unik dengan interior indoor, menampilkan motor tua Harley Davidson sebagai display. Anda juga dapat menikmati permainan musik DJ setiap hari Jum’at dan Sabtu malam.

Cosa Nostra Bistro dilengkapi fasilitas berupa VIP Room dengan kapasitas 12-15 orang, dilengkapi sound system dan LCD yang dapat digunakan sebagai tempat meeting, arisan, dan sebagainya. Fasilitas lainnya berupa WiFi, colokan di setiap sudut ruangan dan bangku, serta penyediaan charger.

Untuk makanan, chef Fadjar Panggabean menyediakan berbagai varian menu masakan western diantaranya Cordon Bleu, Beef Black Paper, Premium Australian & USA Sirloin Steak dan Tenderloin Steak disajikan dengan saus spesial ala Cosa Nostra Bistro, berbagai varian pasta, dan Prawn Bisque Soup atau Chicken Cream Corn yang nikmat. Untuk appetizer tersedia Premium Nachos dan Crispy Chicken Skin. Melengkapi dessert Anda , Red Velvet Cake dan Summer Pudding atau Crème Brullee merupakan pilihan favorit.

Keistimewan lainnya terletak pada varian minuman yang tersaji berupa Cocktail, Beer, Fussion Tea, Asia Soda Non Alkohol dan Wine. Anda bisa mencicipi berbagai varian cocktail berupa One Night Stand, Long Distance dan lainnya. Untuk beer disajikan dalam bentuk spesial yakni dalam gelas ukuran jumbo 600ml dengan harga Rp.50ribu.Keseluruhan makanan dan minuman berkisar Rp. 27ribu hingga Rp. 295ribu.

COSA NOSTRA BISTRO

Cambridge Mall Lt. Dasar

Jl. S. Parman 217, Medan 20152

Mencicipi Kuliner Peranakan Cuisine Ala Madam Kwok

foto : Aidil Syahputra

Bingung menetukan resto yang tepat untuk santap siang atau santap malam Anda dan keluarga? Ingin menemukan resto yang memberikan kenyamanan rumah? Resto Madam Kwok merupakan jawabannya.

Setelah gerai pertama di Epicentrum Walk berhasil menarik perhatian penikmat kuliner di kota Jakarta, Madam Kwok kini hadir di kota Medan tepatnya di kawasan Cambridge Mall Lt. Dasar Jl. S Parman 217, Medan.

Dekorasi resto yang baru dibuka tanggal 15 Mei 2012 memiliki konsep interior bergaya rumah China didominasi warna coklat, hitam dan putih. Kesan tradisional juga terasa melalui penggunaan meja dan bangku yang terbuat dari kayu jati serta hiasan lampu dalam sangkar burung menambah kesan berbeda.

Keunikan lainnya terletak pada citarasa masakan peranakan cuisine yang memadukan masakan Melayu dan Cina. Dalam filosofinya Madam Kwok merupakan nama seorang Chef wanita yang berasal dari Cina. Untuk mencari citarasa maskan yang pas, ia pun melakukan perjalanan ke berbagai wilayah negara Asia Tenggara diantaranya Vietnam, Malaysia, Penang dan Jakarta hingga pada akhirnya ia menciptakan kreasi masakan dengan konsep campuran peranakan.

Suasana kekeluargaan memang hal yang ingin ditampilkan resto Madam Kwok. “Suasananya memang cocok untuk keluarga, ” ungkap Yudha Prayoga selaku Operational Manager. Untuk citarasa masakan Madam Kwok diakui Yudha telah disesuaikan dengan citarasa selera masyarakat Indonesia salah satunya ketersediaan sambal belacan untuk menambah citaras pedas pada masakan yang disediakan.

Tersedia menu-menu paket keluarga, personal dan menu vegetarian lengkap dari sajian appetizer, menu utama hingga dessert. Soal rasa pasti dijamin kenikmatanannya. Pengunjung dpat menikmati menu andalan berupa Laksa yang disajikan dengan Spaghetti dengan kuah bercitarasa asam dan segar, Ayam Buah Kluwak, Pomfret Chili Balacan (Ikan Bawal Hitam), Udang Masak Mamak, Buntut Masak Asam Nyonya Kwok yang diolah dengan belimbing wuluh, Ayam Ikat Pandan dan lainnya.

Untuk vegetarian tersedia Kangkung Belacan, Sapo Tahu Rasa Saudara, Tahu Goreng Lidah dan lain-lain. Tersedia berbagai varian minuman segar seperti Milk Shake Ketan Hitam, Teh Tarik dan lainnya. Jangan lupa mencicipi favorit dessert berupa Melt Choco Pandan, Es Durian Pengat dan Sari Rang Kayo.

Untuk mendukung kenyamanan pengunjung, resto ini dilengkapi dengan fasilitas Wifi, ruangan yang luas, charger HP dan di setiap bangku tersedia saklar. Resto Madam Kwok mematok harga makanan antara Rp.20ribu hingga Rp. 200ribu untuk makanan dan minuman berkisar Rp. 20ribu hingga Rp.25ribu.

(Closed)

 

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.